Monday, 15 April 2019

Kapal pesiar yang singgah di Sabang. (Dok. Istimewa)

Kota Sabang masih tetap menjadi pilihan destinasi kapal wisata berukuran besar sejak beberapa tahun terakhir ini.
Hal ini terbukti semakin seringnya dan semakin meningkatnya angka kunjungan kapal-kapal wisata seperti cruise dan yacht ke daerah setempat.
Dijadikannya Sabang destinasi bagi kapal-kapal wisata, menjadi dasar yang kuat untuk menuntut Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Sabang (BPKS) untuk terus berupaya meningkatkan pelayanan pelabuhanan, dalam upaya menciptakan kesan nyaman-aman dan nyaman bagi para turis yang berkunjung ke kota sabang via jalur laut.
“BPKS akan terus berupaya meningkatkan pelayanan dan menciptakan rasa aman, nyaman selama singgah di Kota Sabang ini,” ujar Plt Kepala BPKS, Razuardi dalam siaran pers BPKS, Minggu (14/4) usai menyambut kunjungan Kapal Pesiar MS Europa yang tiba di kota Sabang pagi tadi.
Razuardi kembali menyampaikan, Kota Sabang memiliki potensi wisata yang dapat di andalkan dan memiliki nilai jaul yang tinggi ke pasar dunia.
Karenanya, dengan semakin meningkatnya kunjungan cruise dan Yacht ke Kota Sabang ini, tentunya berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah setempat.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Komersial dan Investasi, Agus Salim menambahkan, pihaknya kedepan juga akan menargetkan setiap bulan bisa dikunjungi minimal satu kapal. Dan bila hal ini tercapai tentunya akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan dari sisi fasilitas, BPKS akan terus berbenah, dimana ada kekurangan akan dibenahi. Begitu juga dengan koordinasi pihak-pihak terkait seperti Pemerintah Kota Sabang, Pemerintah Provinsi, Travel Agent, Tour Guide serta pihak-pihak pelaku pariwisata di Kota Sabang ini, sehingga kedepan benar-benar layak sebagai destinasi Cruise Dunia.
“Saat ini cukup memadai untuk menghandle cruise-cruise besar, dimana Dermaga milik BPKS memiliki panjang lebih dari 400 meter dan memiliki laut yang dalam. Namun yang terpenting, pelabuhan kita telah memiliki sertfikat ISPS-Code tentang keamanan pelabuhan,” katanya.
Sebagaimana diketahui, Kapal Pesiar MS. Europa baru pertama sekali singgah di Kota Sabang. Kapal ini memiliki panjang 198 meter dan memiliki bobot 28.890 Gross Register Tonnage (GRT).
Kapal ini dinahkodai oleh Capt. Hartmann Olaf Otto, mengangkut 626 orang yang terdiri dari 347 Penumpang dan 297 Kru kapal. Sebelumnya kapal ini berlayar dari Ko Adang Thailand, dan akan melanjutkan pelayaran ke Srilangka.
Pada sesi penyambutan, BPKS juga ikut melibatkan unsur Forkompimda, Kadis Pariwisata Provinsi, Pemko Sabang,  Travel Agen, Tour Guide, Organda, Permosa (Asosiasi Kendaraan Rental-red) dan para pedagang yang ikut terlibat dalam Bazar yang dipersembahkan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Aceh.[] Sumber: Kanalaceh.com
(Dok. Istimewa)
Kapal Pesiar Europa Cruise berbendera Bahamas, bersandar di pelabuhan CT 3 Sabang, Minggu (14/4).
Kapal yang dinakhodai oleh Kaptain Hartmann Olaf Otto ini membawa 332 penumpang dan 260 anak buah kapal. Kedatangan kapal pesiar ini, disambut oleh Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) serta Kepala Dinas Pariwisata Aceh dan Pejabat lainnya.
Plt Kepala BPKS, Razuardi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan segala alat transportasi, bagi wisatawan yang ingin mengunjungi berbagai destinasi di Sabang.
Pihaknya juga menyiapkan counter dest information, menggelar bazar wisata cruise. Kegiatan kunjungan turis ke beberapa destinati dan objek para turis langsung menggunakan jasa organda taxi, becak.
“Kami juga menyiapkan beberapa petugas tour Guide yang sudah kami siapkan di pelabuhan untuk memfasilitasi komunikasi pelyanan jasa tranportasi,” ujarnya.
BPKS dan Pemerintah Kota Sabang terus melakukan promosi, potensi wisata bahari kepada wisatawan mancanegara guna meningkatkan perekonomian masyarakat.
Para penumpang kapal pesiar yang turun dari kapal menyempat diri berkunjung ke berbagai objek wisata laut pantai Iboih dan Sumur Tiga yang menghadap ke Samudera Hindia dan Selat Malaka dan wisata heritage, seperti Benteng-Benteng Jepang. Selanjutnya kapal ini pada Pukul 18:00 WIB akan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Colombo.
Sejak Januari hingga April 2019, sebanyak lima kapal pesiar sudah bersandar di Sabang, Aceh. Kapal itu adalah MS Seabourn Soujourn, MS Seven Saes Mariner, MS Silver Discoverer, MS Albatros dan MS. Europa. “MS Europa selanjutnya akan melanjutkan mengarungi Samudera Hindia dan Selat Malaka sampai ke tujuan di Colombo, Sri Lanka,” kata Razuardi.
Setelah MS Europa, menurut Razuardi sesuai konfirmasi kepala Manajemen Unit Pelabuhan, akan ada kapal pesiar lain yang sudah mengkonfirmasi bakal sandar di Sabang hingga akhir 2019 nanti.
Kapal pesiar itu antara lain, MS Azamara Quest, MS Seabourn Encore, MS Boudicca, Marella Discovery, dan MS Seabourn Ovation.
BPKS mencatat, kunjungan kapal pasiar dari mancanegara ke Sabang akan terus bertambah seiring semakin gencarnya promosi yang dilakukan oleh BPKS, Dinas Pariwisata Aceh, Dinas Pariwisata Sabang serta Kementerian Pariwisata serta pihak swasta khususnya yang bergerak di bidang travel.

Tuesday, 25 September 2018

Makanan Memek Khas Simeulue yang Melegenda

Memek, kuliner khas Simeulue. (Dok. Kanalaceh.com)
Sinabang - Setiap daerah memiliki makanan khas sendiri, begitu juga dengan Kabupaten Simeulue, Aceh, yang kaya akan budaya dan wisata kuliner. Salah satu makanan khasnya (maaf) bernama memek.

Ketika mendengar kata memek, mungkin yang terbayang dibenak ialah konotasi negatif. Namun memek yang dimaksud ialah makanan khas di pulau paling barat Indonesia ini.

Makanan tradisional Simeulue ini terbuat dari beras ketan putih yang digongseng, pisang, santan dan gula. Lalu di campur dan di tumbuk menggunakan batang pisang atau bahan yang keras agar bahan bakunya halus.

Ketika kanalaceh.com mencicipi makanan ini, rasanya manis. Aroma pisangnya terasa. Makanan Memek ini persis seperti bubur, yang membedakannya ialah perpaduannya dengan beras ketan yang digongseng, membuat makanan ini seperti ada kriuk-kriuknya.

Makanan ini biasanya disajikan ketika acara buka puasa bersama, acara lebaran, dan acara pesta. Makanan memek merupakan makanan peninggalan raja yang sudah ada sejak zaman dulu di Simeulue. Selain itu, juga menjadi hidangan kehormatan bagi para tamu yang berasal dari luar.

“Di Simeulue paling dicari itu makanan yang terbuat dari pisang, beras ketan yaitu memek, itu makanan tradisional disini yang masih tetap eksis, ” kata Wakil Bupati Simeulue, Afridawati di Pantai Matanurung, Simeulue, Aceh, pada Kamis (26/10).

Diakui Afridawati, makanan memek ini terbilang sulit untuk menemuinya di Simeulue. Sebab, makanan ini sudah jarang ada yang menjajakannya di warung atau toko milik warga. Kecuali, pengunjung memesannya terlebih dulu.

Namun, pihaknya sudah merancang agar makanan khas daerah penghasil lobster ini bisa ditemui dan selalu ada setiap saat. “Kita upayakan agar makanan ini siap saji, agar pengunjung tidak kesulitan untuk menemukannya, ” ujarnya.

Salah seorang Wisatawan, Putri Natasya, setelah mencicipi makanan memek, mengaku kuliner ini mampu memanjakan lidah pengunjung. “Meskipun namanya agak aneh ya, tapi rasanya enak, manis, dan tidak eneg dimulut, “ujarnya.

Dari informasi yang diperoleh kanalaceh.com mengenai harga per porsi, memek ini sempat ada yang menjual seporsinya Rp 10 ribu.[] Sumber: Kanalaceh.com

Monday, 24 September 2018

Peserta Spesial Camping 100 Tenda Nikmati Pesona Lut Tawar

Dok. Disbudpar Aceh

Takengon - Spesial Camping 100 Tenda yang berlokasi di Desa Ujung Nunang, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (22/9/2018), memang spesial, selain jumlah peserta yang melebihi target, pesona view Danau Lut Tawar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Danau Laut Tawar memiliki cerita tersendiri.

Even ini merupakan rangkaian dari Gayo Alas Festival Mountain Internasional 2018 (Gamifest) yang digelar di Aceh Tengah sejak 14 September lalu. Dan akan menyambangi 3 kabupaten lagi di dataran tinggi Gayo, seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara yang akan berakhir pada 24 November akan datang (info bisa dicek di kalender Gamifest 2018 yang ada di Web Disbudpar Aceh www.budpar.acehprov.go.id).

 "Kita tidak menduga kalau antusiasnya peserta yang ingin ikut Camping 100 Tenda. Dari 100 tenda yang kami sediakan, kini sudah 120 tenda. Mereka mendaftar melalui media sosial, ada yang dari Padang, Jakarta, Medan, Siantar, Langsa, Lhokseumawe, Subulussalam, Banda Aceh, hingga Kuala Lumpur-Malaysia," papar Kasie Pengembangan Segmen Pasar Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos, MM di Takengon, Minggu pagi (22/9/2018).

Lanjutnya, lokasi tenda dipisah antara lelaki, perempuan, keluarga, dan Genpi (Generasi Pesona Indonesia). Selain itu juga di lokasi kegiatan yang dikelilingi Danau Laut Tawar disediakan dua unit Ambulance Coffeshop, toilet, tempat whuduk, dan Musalah. Para peserta juga kata Lela diminta, selain untuk menjaga kenyamanan, juga menjaga kebersihan dengan disediakannya plastik-plastik sampah. 

"Pagi ini peserta diajak berolahraga bersama dan kemudian melakukan penanaman pohon di Ujung Nunang," kata Lela.

Wisatawan dalam negeri ada juga beberapa wisatawan dari negara tetangga yaitu Malaysia.

Selain camping, peserta juga dapat dikenalkan dan menikmati menikmati musik tradisional, kesenian khas masyarakat Gayo Didong, dan juga tari Saman dari Gayo Lues, Aceh, yang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Bukan hanya itu panitia juga menyiapkan beragam kegiatan lain, seperti teatrikal dan game-game menarik lainnya.

"Pak Kadisbudpar Aceh, Amiruddin, juga ikut mengikuti dan memantau semalam,  beberbagai rangkaian budaya dan kesenian, juga live musik digelar. Alhamdulillah peserta sangat tertib dan mengikuti aturan yang telah disepakati, mengikuti syariat Islam. Juga peserta keluarga kita lihat juga bisa menikmati even ini bersama anak-anak mereka, apalagi saat melepaskan lampion dan membakar api unggun," ujar Lela Lagi,

Ketua panitia camping 100 tenda, Ridwansyah menambahkan, acara ini sangat diminati oleh para peserta. Kali ini para peserta yang rela membawa tenda sendiri, agar bisa mengikuti Camping 100 Tenda. 

"Mereka para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan Camping 100 Tenda ini, para peserta yang hadir bukan hanya muda mudi melainkan peserta yang membawa keluarga, selain itu para peserta yang ikut camping 100 tenda ini juga ada yang datang dari negara tetangga kita yaitu Malaysia, mereka disini (Gayo) sudah lima hari di Takengon dan melihat beragam objek wisata dan budaya masyarakat Gayo," kata ketua panitia Ridwan, Minggu malam (23/9/2018).

Dia menambahkan, dalam kegiatan ini Pemerintah Aceh melalui Disbudpar Aceh dan daerah sangat mendukung penuh acara tersebut, lantaran Camping 100 terus digemari para peserta, dan dia berharap kedepannya melalui pemerintah daerah dan provinsi terus mendukung kegiatan positif ini.

"Saya pribadi pemerintah terus mendukung dan menentukan tanggal acara ini untuk kegiatan tahunan bahkan kalau bisa 6 bulan sekali diadakan," demikian ujarnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Plt Kadisbudpar Aceh, Drs. Amiruddin M.Si dan juga dihadiri Kadisparpora Aceh Tengah, Khairuddi  Yose, Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, M. Bus. Dalam pidato singkatnya, Amiruddin meminta kepada peserta Spesial Camping 100 Tenda agar ikut mempromosi dan eksplor ragam keindahan objek wisata di Aceh Tengah melalui media sosial.[] Rilis
Rangkaian Gamifest 2018

55 Club Ikut Lomba Dayung Perahu Tradisional

Dok. Disbudpar Aceh

Takengon - Sebanyak 55 club dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah mengikuti Lomba Dayung Perahu Tradisional di Krueng Peusangan, Kampung Boom, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (22/9/2018). 

Kegiatan ini merupakan rangkaian Gayo Alas Mountain International Festival (Gamifest) yang sudah dimulai sejak 14 September dan berakhir pada 24 November mendatang yang tersebar di 4 kabupaten, yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara (informasi lengkap bisa dilihat di Web Disbudpar Aceh www.disbudpar.acehprov.go.id).

Ketua Panitia Pelaksana Jaesan dalam sambutannya mengatakan, lomba yang terbagi dua kategori umum (18 tahun ke atas) dan Kategori Pelajar (14-17 tahun) memperebutkan hadiah dengan total Rp12 juta. Sedangkan panjang garis star hingga finis dengan sekali putaran sepanjang 500 meter. Kegiatan ini sendiri berlangsung hari ini dan Minggu besok (23/9/2018).

"Setiap rest akan dilepas empat club dengan perahu yang telah disediakan panitia dan juga tim SAR dari TNI maupun masyarakat ikut mengawasi keselamatan peserta yang juga kita wajibkan mengenakan baju pelampung," jelasnya.

Reje Kampung Boom, Azhar Tamat, sebagai tuan rumah lokasi kegiatan dalam pidato singkatnya mengucapkan terimakasih karena Disbudpar Aceh telah mempercayakan kampungnya sebagai tuan rumah pada rangkaian Gamifest 2018 Lomba Dayung Perahu Tradisional.

"Saya berharap, masyarakat kami terus dibina dan diberi wawasan tentang sadar wisata. Karena membangun satu kampung wisata tidak mudah tanpa dukungan warganya," ujar Azhar Tamat.
Dok. Disbudpar

Sementara itu, Plt Kadisbupar Aceh. Drs. Amiruddin M.Si yang diwakili Kepala Bidang Pemasaran, Rahmadhani, M.Bus, saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, Gamifest  2018 melibatkan masyarakat lokal mempersiapkan segala kegiatan. Dan dia juga meminta masyarakat setempat untuk terus mendukung setiap kegiatan Gamifest, yang baru pertama kali diadakan ini.

"Gamifest 2018 dari, oleh, dan untuk rakyat. Ini salah satu cara kita membantu masyarakat sadar wisata. Kegiatan Gamifest ini dapat terlaksana salah satunya di Aceh Tengah, setelah mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Aceh. Tujuannya, kita ingin dengan adanya Gamifest, wisatawan yang berkunjung ke dataran tinggi Gayo meningkat," kata Rahmadhani.

Pada star pertama Lomba Dayung Perahu Tradisional dilepas startnya oleh Plt Kadisbupar Aceh. Drs. Amiruddin M.Si yang didampingi Kepala Bidang Pemasaran, Rahmadhani, M. Bus, Pengembangan Segmen Pasar, Nurlaila Hamjah, S.Sos, MM, dan mewakili unsur Muspida Aceh Tengah, Pasie Ops Kodim 0106/Ateng, Usep Haeruddin.

Selain lomba perahu tradisional, pada akhir pekan ini juga terdapat sejumlah acara Gamifest lainnya di Aceh Tengah seperti Jetski exhibition, Spesial Camping 100 Tenda, Gathering Pesona Indonesia serta Babak Semifinal dan Final Pacuan Kuda Tradisional Gayo.[] Rilis

Translate

Artikel Terbaru

Artikel Populer